Pohon Jati

Semua orang pasti tau kayu jati, iya kan? Kayu yang paling kuat, paling kokoh, paling tahan pelapukan. Kebanyakan jembatan, kusen pintu, sampe perabot rumah dibuat dari kayu jati. Tapi kebanyakan orang gak tau, kenapa pohon jati itu mahal.

Pohon jati mahal, soalnya nunggu musim panennya lama. Minimal, 60 tahun. Kebayang kan? Lama. 2 tahun sebelum panen, jaringan kambium si pohon jati dipotong, jadi si pohon jati bakalan mengeras karena gak nyerap mineral-mineral dari tanah lagi. Setelah nunggu selama itu, baru deh si pohon jati bisa dipanen. Tapi, semakin lama si pohon jati ditanem, mungkin kurang lebih 100 tahun, kualitas kayu makin bagus dan silindernya semakin membesar. Karena ada proses penebalan pada kambium.

Proses pohon jati itu, kaya hidup seorang manusia. Semakin lama ditunggu, semakin mateng, semakin kuat, semakin mantap. Mateng pemikirannya, kuat pendiriannya dan mantap masa depannya. Tapi, pasti ada prosesnya, pengorbanannya. Di pohon jati itu, pengorbanannya adalah pemotongan kambium itu. Si pohon jati berkorban 2 tahun, jaringan kambiumnya dipotong dan pohon itu mati. Mengering dan menguat. 

Nah, kalau manusia? Apa yang harus dikorbankan? Setiap manusia pasti punya pengorbanan masing-masing. Dan jika pengorbanan itu berhasil, maka manusia akan mendapatkan kematangan, kekuatan dan kemantapan itu. Pasti. Jika ditambah keyakinan dan doa.

Manusia sebaiknya hidup seperti pohon jati.